Notifedia.com, PAREPARE — Menanggapi pemberitaan terkait keluhan calon penumpang yang mengaku kesulitan membeli tiket kapal PELNI di Kota Parepare, Kepala Cabang PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Kota Parepare, Hari Santoso, memberikan klarifikasi melalui telpon Whatshap terkait mekanisme pembayaran tiket di kantor PELNI. Senin, 10/8/26.
Hari Santoso membenarkan bahwa pembayaran tiket secara langsung di kantor PELNI Kota Parepare memang dilakukan melalui mesin Electronic Data Capture (EDC).
Menurutnya, kebijakan tersebut diterapkan untuk menghindari transaksi secara tunai yang dinilai memiliki risiko, termasuk kemungkinan terjadinya penyalahgunaan atau penggelapan uang dalam proses pembayaran.
“Untuk pembayaran menggunakan EDC yang berada di kantor PELNI Kota Parepare itu benar adanya. Hal ini dilakukan untuk menghindari pembayaran cash yang kemungkinan bisa terjadi tilep atau proses calo,” ujar Hari Santoso.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk membuat proses transaksi tiket lebih terkontrol dan meminimalkan potensi penyimpangan dalam pembayaran.
Meski pembayaran langsung di kantor PELNI Parepare menggunakan mesin EDC, Hari Santoso menegaskan bahwa masyarakat tidak hanya memiliki satu pilihan untuk melakukan pembayaran tiket.
Menurutnya, PELNI juga menyediakan sejumlah layanan pembayaran melalui perbankan dan mitra pembayaran.
Beberapa di antaranya melalui virtual account, Indomaret, Alfamart, iSaku, FinPay dan FastPay.
Dengan demikian, calon penumpang yang tidak ingin melakukan pembayaran menggunakan EDC di kantor PELNI dapat memanfaatkan sejumlah kanal pembayaran lainnya yang telah disediakan.
Sementara untuk pembayaran menggunakan QRIS dan DANA, Hari Santoso mengatakan saat ini pihak PELNI masih dalam proses kerja sama dengan aplikasi atau layanan tersebut.
“Untuk QRIS dan DANA masih sementara kerja sama dengan aplikasi tersebut,” jelasnya.
Selain persoalan mekanisme pembayaran, Hari Santoso juga menanggapi sorotan masyarakat terkait keberadaan travel yang menjual tiket PELNI dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan tarif resmi.
Sebelumnya, seorang calon penumpang mengaku mendapatkan informasi harga tiket resmi PELNI tujuan Baubau berada di kisaran Rp290 ribuan. Namun, saat mencoba mencari tiket melalui travel, harga yang ditawarkan disebut mencapai sekitar Rp480 ribuan.
Perbedaan harga tersebut kemudian memunculkan keresahan dan dugaan di tengah masyarakat terkait kemungkinan adanya pihak tertentu yang mengambil keuntungan secara berlebihan.
Menanggapi hal tersebut, Hari Santoso menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan adanya travel yang menjual tiket dengan harga melambung tinggi hanya untuk mendapatkan keuntungan sepihak.
Ia menyatakan akan melakukan tindakan terhadap travel yang terbukti melakukan praktik tersebut.
Langkah itu dinilai penting untuk melindungi masyarakat agar tetap mendapatkan tiket dengan harga yang sesuai dengan ketentuan serta mencegah adanya pihak yang memanfaatkan kebutuhan masyarakat untuk memperoleh keuntungan berlebihan.
Klarifikasi dari Kepala Cabang PELNI Parepare tersebut sekaligus menjadi penjelasan atas keluhan calon penumpang terkait mekanisme pembelian tiket di kantor PELNI.
Pihak PELNI menegaskan bahwa penggunaan EDC di loket merupakan bagian dari upaya menghindari transaksi tunai dan meminimalkan potensi penyalahgunaan maupun praktik percaloan.
Di sisi lain, masyarakat tetap diberikan sejumlah alternatif pembayaran melalui kanal perbankan dan mitra pembayaran yang tersedia.
PELNI Parepare juga menyatakan akan melakukan pengawasan terhadap travel yang menjual tiket dengan harga tidak wajar.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, masyarakat diharapkan dapat memahami mekanisme pembelian dan pembayaran tiket PELNI sekaligus menggunakan kanal resmi yang tersedia untuk menghindari kerugian.
PELNI Parepare menegaskan bahwa pengawasan terhadap proses penjualan tiket, termasuk terhadap travel atau agen, akan menjadi perhatian agar masyarakat memperoleh pelayanan dan harga tiket yang sesuai ketentuan.
