Notifedia.com, PAREPARE – Suasana di SPBU 74.911.53 Jalan Jenderal Ahmad Yani Kilometer 3 Kota Parepare sempat memanas setelah warga mengeluhkan pelayanan pengisian solar subsidi yang dinilai tidak jelas dan menimbulkan kekecewaan di kalangan antrean konsumen.
Berdasarkan keterangan warga tersebut yang berada di lokasi, insiden tersebut bermula ketika beberapa pengendara yang telah lama mengantre tidak mendapatkan solar dengan alasan stok habis. Rabu, (24/6/26).
Namun, tak lama kemudian muncul informasi bahwa masih terdapat kendaraan lain yang melakukan pengisian BBM di lokasi yang sama.
Kondisi tersebut memicu protes dari sejumlah pelanggan yang merasa diperlakukan tidak adil.
Salah seorang warga, Ardi, mengaku telah mengantre sejak pagi hari, namun saat gilirannya tiba, petugas SPBU menyatakan solar telah habis.
“Saya sudah lama mengantre. Pas giliran saya, na matikan mi noselnya dibilang habis. Padahal sebelum saya malah ada mobil lainnya yang bisa mendapatkan jatah solar hingga 5 juta rupiah, Malah dia isi dua mobil itu dengan masing-masing 5 juta,” Ungkapnya.
Sebelumnya pak istri saya sempat melaporkan hal tersebut ke pegawai SPBU, istri saya sempat juga memvideo mobil yang di isikan 5juta.
“Istri saya memberitahukan ke pegawai SPBU kalau saya juga ikut ngantri dari tadi jadi usahakan untuk mendapatkan BBM Solar tersebut.” Lanjutnya.
Menurut Ardi, mengkin karena itu mi pak sehingga pas antrianku na matikan ki mesinnya na stopkan noselnya dan dia bilang habismi solar.
Setelah di mediasi aktifitas kembali berjalan dan Ardi menyimpan kendaraannya di pinggiran jalan sesuai kesepakatan kalau besok pagi dia yang paling duluan masuk setelah adanya pengisian solar dari mobil tangki ke SPBU tersebut.
Namun berbeda dan terjadi adu mulut setelah beberapa jam kemudian Ardi mendapatkan info dari beberapa driver yang tak meninggalkan kendaraannya kalau Nosel jenis Solar kembali terbuka kembali berjalan.
Ardi beserta keluarganya segera bergegas ke SPBU tersebut dan terjadilah adu mulut. Hingga beberapa Pegawai SPBU yang mana di isi oleh perempuan mengeluarkan kata-kata yang tidak wajar atau kata-kata kotor serta salah satunya sempat mendatangi Ardi dan melakukan tendangan.
Warga menilai pelayanan di SPBU tersebut perlu dievaluasi karena dianggap tidak mampu memberikan kepastian kepada masyarakat yang telah menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean.
“Kami hanya ingin ada keterbukaan. Kalau memang habis, habis untuk semua. Jangan sampai masyarakat yang sudah mengantre lama justru tidak dilayani sementara kendaraan lain masih bisa mengisi,” ujar Ardi.
Peristiwa tersebut kembali memunculkan sorotan terhadap sistem pelayanan dan pengawasan penyaluran BBM jenis Solar di SPBU Kilometer 3 Parepare.
Masyarakat berharap pihak pengelola SPBU dan instansi terkait segera memberikan penjelasan serta melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola SPBU belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan pelanggan maupun insiden yang terjadi di area SPBU tersebut.

