Notifedia.com, SIDRAP — Pengungkapan sabu seberat 1 kilogram oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Selatan (BNNP Sulsel) tak hanya membongkar jaringan peredaran narkotika lintas wilayah, tetapi juga kembali membuka borok lama lemahnya pengawasan lembaga pemasyarakatan. Kali ini, sorotan tajam mengarah ke Lapas Kota Parepare.
Dalam pengembangan kasus, tersangka RD yang diamankan di Sidrap diduga kuat hanya berperan sebagai kurir lapangan. Fakta krusial yang mengemuka, RD disebut sempat berkomunikasi dengan seorang narapidana aktif di Lapas Parepare berinisial C-D, dengan iming-iming upah puluhan juta rupiah.
Temuan ini memantik pertanyaan serius: bagaimana mungkin komunikasi dan dugaan pengendalian peredaran narkotika dapat berlangsung dari dalam lapas?
Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Sulsel, Komisaris Besar Polisi Ardiansyah, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pengungkapan ini merupakan bagian dari rangkaian operasi gabungan dan pengamanan tersangka sejak awal hingga pendalaman awal penyidikan rampung dilakukan.
“Operasi ini merupakan rangkaian operasi dan pengamanan tersangka sejak awal hingga proses pendalaman awal selesai dilakukan oleh penyidik,” tegas Ardiansyah.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keterkaitan nama Lapas Parepare bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari penelusuran terukur dan berbasis intelijen.
Hasil pemeriksaan awal menguatkan dugaan bahwa RD bukan pelaku utama, melainkan bagian dari mata rantai peredaran narkotika yang lebih besar dan terorganisir. Sabu seberat 1 kilogram tersebut diyakini hanya satu dari sekian alur distribusi yang sedang disiapkan jaringan.
Indikasi keterlibatan narapidana aktif kembali menegaskan pola lama: penjara yang seharusnya memutus mata rantai kejahatan justru berpotensi menjadi ruang kendali kejahatan.
BNNP Sulsel menegaskan, pendekatan senyap dan presisi dalam kasus ini merupakan bentuk evaluasi serius atas operasi sebelumnya yang sempat menuai sorotan publik.
Aparat memilih bergerak tanpa kegaduhan, mengedepankan intelijen matang, dan meminimalkan risiko bagi masyarakat sipil.
Namun, keberhasilan di lapangan ini justru mempertegas tantangan besar di balik tembok penjara: ketika kendali narkotika belum sepenuhnya terputus dari dalam lapas.
Munculnya dugaan peran narapidana Lapas Parepare dalam jaringan sabu 1 kilogram ini menjadi alarm keras bagi sistem pemasyarakatan. Tanpa pengawasan ketat dan transparansi, lapas berpotensi terus menjadi simpul lemah dalam perang melawan narkoba.
BNNP Sulsel memastikan proses hukum terhadap RD berjalan dan pengembangan kasus terus dilakukan.
Aparat menegaskan, pengungkapan ini tidak berhenti pada kurir, dan membuka kemungkinan penindakan lanjutan terhadap siapa pun yang terbukti terlibat termasuk bila jejaknya mengarah ke balik jeruji besi.

